Saat wartawanme dilanda terror kepala babi

Saat wartawanme dilanda terror kepala babi

borneotogel88.org  – Dikutip dair link slot gacor mgo777, Rasanya, ada kala-kala orang di negeri ini terlampau cepat marah, terlampau gampang simpan tidak suka, dan terlampau suka memperlihatkan kuasa dengan beberapa cara yang berlebihan.

Ini mungkin yang tercermin dalam kasus yang menerpa Tempo. Baru saja ini, kantor media itu dikirimkani kepala babi, yang selanjutnya diikuti sekian hari sesudahnya, enam bangkai tikus dengan kepala terpotong.

Ada yang menduga itu sekedar sinetron untuk cari perhatian di selang sandyakala media yang makin muram.

Tetapi, saat diakui lebih dalam, kelihatannya ini bukanlah waktunya untuk meremehkan atau menyinyir. Ini bukanlah masalah Tempo semata-mata, tetapi ada teror kebebasan jurnalis yang serius berbentuk gertakan fisik dan simbolis.

Kepala babi dan bangkai tikus ialah lambang penghinaan, kekerasan, dan teror. Substansi yang baunya busuk, lambangnya gelap, hingga menggambarkan niat pengirimnya yang tidak kalah murung.

Bila tidak ditindak tegas, ini dapat menjadi preseden jelek. Media di Indonesia akan berpikiran kembali untuk ungkap bukti penting karena dampak negatif keselamatan. Demokrasi yang tegak juga dapat terancam.

Di lain sisi, untuk wartawan sendiri, seperti arus sungai yang tidak dapat dibendung batu, semangat wartawanme yang sehat tidak mati karena hanya kiriman terror.

Cuplikan dari intelektual Muslim Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sebelumnya pernah mengingati jika bangsa ini terkadang salah membandingkan di antara keras kepala dan tegar pendirian.

Wartawanme ialah tegar pendirian. Dia berdiri antara bising rendah kekuasaan, kebutuhan, dan kabut penilaian, sekalian bawa jelas, informasi, dan kebenaran.

Karena itu, jika ada yang menduga kepala babi dapat membekap media, itu maknanya mereka belum mengenali sejarah.

Dahulu, wartawan sebelumnya pernah dibungkam, disensor, dilarang, tetapi berulang-kali dia tumbuh kembali. Seperti rumput-rumputan yang diratakan cangkul, ada selalu yang bangun lebih hijau.

Kenapa perlu takut pada suara? Pada data, pada narasi? Bila memanglah tidak ada yang keliru, kenapa resah? Berikut titik yang penting direnungkan.

Karena yang ditakuti bukan hanya kepala babi atau tikus mati, tetapi semangat membekap tersebut.

Jika kebebasan jurnalis terancam, warga akan kehilangan cermin. Tidak paham kembali mana cedera yang penting diobati, mana borok yang perlu dibikin bersih.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *